Portal Berita Papua Barat

Akui Sebut Nama Rudi Timisela, Sroyer Minta Keringanan Hukum

0 3.423
Sroyer Minta Keringanan Hukum
Sroyer Minta Keringanan Hukum – Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi lahan sirkuit motor grand prix SP-6, Masni, Kabupaten Manokwari yang menyeret ES (Kepala Biro Pemerintah Setda Papua Barat) sebagai terdakwa, kini kembali menghadirkan Ishak Hallatu, di Pengadilan Tipikor Manokwari, Rabu (21/2/2018).(Foto: Hanas Warpur/PBOKe)
Manokwari, Papuabaratoke.com – Sroyer Minta Keringanan Hukum.  Terdakwa kasus korupsi Elisa Sroyer dalam sidang lanjutan, Rabu (28/2/2018) di Pengadilan Tipikor, Manokwari, Provinsi Papua Barat selain mempertanyakan aspirasi pembelian lahan Moto Prix di Masni, Kabupaten Manokwari, juga mengakui menyebut nama anggota DPR PB, Rudi Timisela.

Kepada Papuabaratoke, Jumat, 2 Maret 2018, terdakwa Elisa Sroyer menjelaskan, dana untuk pembelian lahan pembangunan moto prix di Masni, Manokwari, Papua Barat, bukan dari inisiatif Biro Pemerintahan Setda Provinsi Papua Barat.

“Sebenarnya aspirasi pembelian lahan milik masyarakat dari siapa,? Sebab kami dari biro pemerintahan hanya memproses administrasi, bukan aspirasi datang dari kita” jawab Sroyer.

Menurut Sroyer, pada tahun anggaran 2015, ia menjabat sebagai karateker bupati Raja Ampat sehingga harus diakui bahwa kelalaian dalam memproses administrasi dan dokumen pembelian tanah itu, bahkan ia menjelaskan tentang aspirasi tanah tersebut datang dari siapa, maka inilah yang harus diperjelas.

Meskipun diskresi (Kebijakan) yang diambil namun akhirnya berdampak hukum dan terkesan ia disalahkan karena pada ujungnya menjadi beban hukum kepadanya.

Oleh karena itu melalui fakta sidang Sroyer mengaku harus terbuka, sebab sedikitpun niat ambil uang tidak ada, bahkan sama sekali uang dari pembelian tanah tidak dinikmatinya, namun hanya karena kesalahan prosedur administrasi.

“Saya harus terbuka karena jangan terkesan saya dinilai mengambil uang, sebab saya tidak makan uang sama sekali. Iya saya sebut nama Rudi Timisela,” jawab Sroyer.

 

Baca Juga:  Sidang Korupsi Sirkuit Moto Prix, Saksi Kabid Aset Daerah PB Banyak Jawab Tidak Tau

Dia menjelaskan, bukan menyebutkan orang lain untuk harus menanggung persoalan ini, namun dari saksi yang dihadirkan pada dua kali sidang memberatkannya dan tekesan ia di vonis memakan uang tersebut.

Padahal tidak ada niat mengambil uang sama sekali, sebab pengusulan anggaran sebesar Rp. 2,2 miliar seperti dijelaskan saksi mantan Bappeda Setda Papua Barat, Ishak Hallatu.

Dimana pengakuan Ishak Hallatu bahwa pengusulan dana pembelian tanah yang diketahui oleh tim TAPD Provinsi Papua Barat untuk lahan Moto Prix Manokwari senilai Rp. 2,2 miliar. Namun justru membekak menjadi Rp. 2,950 miliar.

Lantas kelebihan pengusulan penambahan dana itu datang dari siapa. Sedangkan pengakuan terdakwa Elisa Sroyer bahwa pada waktu itu ia hanya mengetahui pembelian tanah Rp. 2,2 miliar sesuai keterangan saksi Ishak Hallatu.

Berjalannya waktu pada anggaran 2015 akhir ia dipercayakan menjabat bupati Raja Ampat sehingga dirinya lebih fokus pada Pemerintah setempat, sedangkan tugas kepala Biro Pemerintahan ia tidak konsen.

Bahkan Sroyer mengaku aliran dana ke siapa, ia pun tidak mengetahui, sebab dirinya tidak menikmati dana tesebut, maka melalui sidang yang sudah berjalan ini, selaku warga negara dan berjasa kepada pemerintah daerah dan negara, maka terdakwa minta diberikan keringanan hukum.

Penulis : Hanas Warpur
Editor : Kris Tanjung
Comments
Loading...
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
error: Content is protected !!