Portal Berita Papua Barat

Kasus Penembakan Deiyai Diusut Komnas HAM, PBB Diminta Kirim Pelapor Khusus

0 10
Yan Christian Warinussy, SH

Manokwari, Papuabaratoke.com – Aksi penganiayaan yang berujung penembakan dan menewaskan satu warga sipil di Kabupaten Deiyai, Papua, 1 Agustus 2017, menjadi sorotan semua pihak.

Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Papua Barat, Lembaga Masyarakat Adat (LMA) dan Dewan Adat Papua (DAP) Wilayah III di Papua Barat, menyatakan sikap tegas dan mengutuk aksi tersebut.

“Kami telah diskusikan bersama untuk mengawal proses investigasi Komnas HAM maupun Komnas Pelindungan Perempuan dan Anak. Siapapun dia, pelaku penembakan dan penganiayaan terhadap 17 warga sipil di Deyai harus dihukum sesuai hukum Negara ini,” tegas Sekertaris DPD KNPI Papua Barat, Jemy Liunsanda, Sabtu (5 Agustus 2017).

Presiden Jokowi dan Kapolri, diminta segera memanggil Kapolda Papua untuk dimintai keterangan, guna menjelaskan motif serta untuk membantu investigasi Komnas HAM bersama Komnas PA.

“Dalam waktu dekat kami akan melakukan aksi solidaritas dengan tema ‘Malam duka pelanggaran HAM di Tanah Papua’. Karena sudah sekian kasus pelanggaran HAM di Papua tak satupun berujung tuntas di meja Pengadilan HAM,” bebernya.

Aksi ini akan melibatkan seluruh komponen masyarakat, termasuk institusi TNI/POLRI , sebagai bentuk protes terhadap aksi sewenang-wenang terhadap Orang Asli Papua (OAP).

Yan Christian Warinussy, SH Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, menilai dugaan penembakan 17 warga sipil dan satu korban tewas, Marius Pigai di Kampung Oneibo-Distrik Tigi-Kabupaten Deiyai-Provinsi Papua, merupakan pelanggaran HAM berat.

Menurut dia, indikasi ini sebagaimana dimaksud dalam amanat pasal 7, pasal 8 dan pasal 9 dari Undanga Undang Nomor 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM.

“Indikasi kuat telah terjadinya kejahatan genosida (genocida) dan kejahatan terhadap kemanusiaan (crime against humanity),” bebernya dalam siaran persnya.

Baca Juga:  Siap Siap Besok Lelang Jabatan Dilingkup Pemkab Manokwari Dari Sekda Hingga Kasat Pol-PP

Yan juga membeberkan bentuk luka yang diderita korban meninggal, Marius Pigai maupun 16 korban lain, menguatkan fakta jika mereka ditembak tidak degan peluru karet.

Berdasarkan sumber LP3BH di Waghete-Deiyai, para korban termasuk korban tewas, diduga keras terkena serpihan peluru tajam yang berasal dari senjata api milik aparat keamanan gabungan TNI/Polri.

“Bukti selongsong peluru diperoleh di Tempat Kejadian Perkara (TKP), menunjuk pada peluru tajam jenis kaliber PIN 5,56 yang belum diklarifikasi berasal dari jenis senjata api mana dan dari kesatuan mana,” katanya.

Ia mengingatkan keluarga korban untuk menyimpan semua alat bukti, baik semua bukti fisik maupun fakta demi kepentingan investigasi kasus ini.

Baginya, peristiwa Deiyai memperkaya data jumlah peristiwa dugaan pelanggaran HAM yang Berat di Tanah Papua yang terus-menerus terjadi secara berkesinambungan.

LP3BH Manokwari juga meminta perhatian Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang berkedudukan di Jenewa-Swiss untuk dapat segera mengirimkan Pelapor Khusus (Special Rapporteur) untuk urusan anti penyiksaan untuk dapat berkunjung ke Tanah Papua. (ARN/PBOke)

Comments
Loading...
error: Content is protected !!