Portal Berita Papua Barat

Bupati Mairuma: Tidak Ada Penderita Gizi Buruk di Kaimana

0 519
Tidak Ada Penderita Gizi Buruk di Kaimana
Tidak Ada Penderita Gizi Buruk di Kaimana – Suasana di dalam ruang rapat kantor Bupati Kaimana. Bupati Kaimana Matias Mairuma membantah pemberitaan menyangkut gizi buruk di daerah itu menyusul adanya pemberitaan sejumlah media massa. (Foto: WIH/PBOKe)

Kaimana, Papuabaratoke.com – Tidak Ada Penderita Gizi Buruk di Kaimana.  Bupati Kaimana Matias Mairuma membantah informasi tentang kasus gizi buruk di Kabupaten Kaimana, yang beredar di media massa.

“Ini bukan mencari pembenaran tetapi faktanya memang demikian. Pasien yang dirawat di RSUD itu mengalami komplikasi penyakit, bukan gizi buruk, seperti yang dilansir sejumlah media massa,” kata bupati, saat menggelar konfrensi pers di ruang rapat bupati, Kamis (8/3/2018).

Kata Mairuma, informasi yang tersiar melalui media massa perlu diklarifikasi, agar ada keberimbangan informasi sehingga tidak menjadi pembenaran bagi banyak orang .

“Pemberitaan sejumlah media online dan pernyataan anggota DPRD (Rusli Ufnia) adalah tidak benar,” ujar bupati.

Sebelumnya, diberitakan bahwa ada pasien gizi buruk yang dirawat di RSUD Kaimana. Dinas Kesehatan Provinsi pun mengaku belum menerima laporan ihwal kasus gizi buruk itu.

“Sesungguhnya, ini merupakan pasien yang mengalami komplikasi penyakit cukup lama. Tiga diantaranya merupakan pasien anak dan satu lainnya pasien dewasa,” ungkap Mairuma.

Saat menyampaikan keterangan, Bupati Mairuma didampingi Wakil Bupati Ismail Sirfefa, perwakilan Dinas Kesehatan dan RSUD. Dalam kesempatan itu, dr. Yuris Jayaprabowo.

Dokter Yuris Jayaprabowo mengatakan, 3 pasien anak menderita komplikasi penyakit. Kondisi ini mengakibatkan nafsu makan berkurang sehingga berdampak pada menurunnya berat badan.

“Seperti, pasien David dari Kampung Jarati. Pasien berusia 2 tahun 6 bulan ini masuk RSUD pada 26 Februari setelah mendapat rujukan dari Puskesmas Lobo,” katanya.

Yuris menguraikan hasil pemeriksaan terhadap David, saat masuk rumah sakit berat badannya 6,6 kg, dan tinggi 81 cm. Dengan kondisi tubuh panas tinggi dan tidak ada nafsu makan.

Selain itu, lanjutnya, kedua telinganya David terdapat nana yang cukup banyak. Juga kondisi paru-paru tidak normal. Hasil rontgen menunjukan telinga dam paru-paru mengalami infeksi.

“Untuk menetapkan pasien gizi buruk atau bukan, kita perlu lihat lagi berapa berat dan tinggi badannya. Pasien ini sakit sejak berusia 9 bulan dan baru dibawa ke rumah sakit pada usia 2 tahun lebih. Selama sakit tentu nafsu makannya berkurang dan berat badannya otomatis turun,” jelasnya.

Menurut orang tua David, ujar Yoris Jayaprabowo, sebelum sakit kondisi tubuh anaknya normal dan sehat. Setelah 8 hari diopname berat badannya naik 7,2 kg.

Baca Juga:  Benarkan Pasien Gizi Buruk di Kaimana, Otto Parorongan : Sudah Ditangani

“Nanah ditelinga sudah berkurang, infeksi paru-paru sedang kita upayakan. Saat ini, dia masih di rumah sakit karena kami fokus menaikkan berat badannya,” jelasnya lagi.

Pasien lainnya, sambung Yuris Jayaprabowo, bernama Rohrohmana berusia 1,4 tahun berasal dari Kabupaten Fakfak – yang kebetulan singgah di Kaimana.

“Orangtuanya membawa ke RSUD dengan keluhan sariawan diseluruh mulut dan diare. Berat badan pasien 5 kg dan tinggi 71 cm. Setelah dirontgen pasien mengalami infeksi pada paru-paru dan perut sehingga dirawat selama 21 hari. Dan dipulangkan pada 6 Maret setelah sariawan dan lainnya sembuh,” terangnya sembari mengatakan saat pasien pulang berat badannya 5,8 kg.

Dikatakan, Untuk pasien gizi buruk tidak menunggu berat badannya ideal baru bisa pulang. Ini dilakukan dengan pertimbangan di rumah sakit rentan virus. Untuk menaikkan berat badan bisa dilakukan di rumah.

“Nafsu makannya sudah mulai bagus. Jadi tidak menunggu berat badan idealnya yang harus mencapai 6-7 kilo. Untuk menaikan berat badan bisa dilakukan di rumah,” beber dia.

Pasien anak berikutnya adalah Rivaldi Waita, berusia 5 tahun. Kata Yuris Jayaprabowo, berat badannya 20 kg. ia mengatakan, pasien tersebut dirawat atas inisiatif pihak RSUD – setelah melihat kondisinya yang pucat.

Rivaldi ke RSUD bersama ibunya yang sedang sakit dan hendak diopname. Setelah diperiksa, Rivaldi ternyata mengalami HB rendah yakni 2,7, yang seharusnya 8. Sehingga akhirnya dirawat pada 2 Februari.

Selama diopname, Rivaldi mendapatkan transfuse darah 4 kantong dengan total 450 cc. Saat dirawat, juga ditemukan fungsi salah satu dari telinganya tidak normal.

“Dia juga malaria tropika dan cacingan. Jadi HB rendah itu disebabkan oleh sakit lainnya itu. Pasien pulang atas permintaan bapaknya pada 5 Maret, karena ibunya meninggal. Saat pulang, kondisinya sudah cukup baik dengan HB 6,7 sudah terjadi peningkatan yang signifikan,” ucap dokter mengklaim.

Ditambahkan, pasien dewasa – ibu dari pasien Rivaldi. Keluhannya adalah anemia dan infeksi pada bagian perut.

“Untuk pasien dewasa, kami tegaskan itu bukan gizi buruk karena bicara gizi buruk hampir tidak pernah terjadi pada pasien dewasa,” ujar dokter Yoris Jayaprabowo.

“Bicara gizi itu sama dengan bicara tentang status gizi anak-anak pada masa pertumbuhan. Tinggi dan berat badannya sesuai atau tidak. Tinggi kurus itu tidak selalu gizi buruk. Kurus kering juga belum tentu gizi buruk, karena ada penyakit lain seperti infeksi yang menjadi penyebabnya,” pungkasnya.

Penulis : WIH
Editor : Razid Fatahuddin
Comments
Loading...
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com