Portal Berita Papua Barat

Dr. Christina: Bidan Tak Bersertivikasi Tidak Berhak Pasang KB Kepada Pasien

0 119
Bidan Tak Bersertivikasi
Bidan Tak Bersertivikasi – Sosialisasi penggunaan KB oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Papua Barat di Oriestom Hotel Manokwari, Papua Barat, Rabu (4/4/2018).(Foto: Hanas Warpur/PBOKe)
Manokwari, Papuabaratoke.com – Bidan Tak Bersertivikasi.  Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Papua Barat dr. Christina mengatakan bahwa, bidan yang belum mengikuti pelatihan IUD dan Implan, tidak berhak memasang alat kontrasepsi kepada peserta program KB.

Sedangkan bagi para bidan yang telah bersertivikasi dan mengikuti pelatihan IUD dan Implan diperbolehkan untuk memasang alat kontrasepsi kepada peserta KB. Tujuan larangan ini agar menghindari dampak terburuk kepada peserta KB yang berujung pada gangguan kesehatan.

Ditanya tentang jumlah bidan yang bertugas di rumah sakit maupun puskemas di daerah Papua Barat, dr. Christina mengaku harus membuka kembali datanya, sebab ia tidak begitu mengafal.

“Pemasangan KB kepada peserta program KB hanya khusus bagi mereka (Bidan, red) yang sudah bersertivikasi dan sudah mengikuti pelatihan IUD dan Implan,” kata dr. Christina kepada papuabaratoke, Rabu (4/4/2018).

Dr. Christina mengutarakan bahwa masyarakat Papua Barat sangat menyukai penggunaan program KB, namun belum banyak masyarakat yang memahami tentang penggunaan dan manfaat dari program KB itu sendiri.

Untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang program KB, kata dia, maka BKKBN Papua Barat melakukan sosialiasi bersama mitra, yakni peran bidan. Sebab para bidan berada di lapangan dan langsung bersentuan dengan peserta KB.

Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKN Papua Barat dr. Christina.(Foto: Hanas Warpur/PBOKe)

Dijelaskan Christina bahwa penggunaan KB bukan untuk membatasi jumlah anak, namun perencanaan anak yang sehat agar tidak terhindar dari 4T (terlalu tua melahirkan, terlalu muda melahirkan, terlalu banyak anak dan terlalu dekat jumlah anak).

Untuk mensosialiasi penggunaan KB kepada masyarakat, BKKBN menggandeng mitra, seperti bidan, TNI, Polri, dan PKK. Bahkan pendekatan berbasis komunikasi juga dilakukan ke gereja, mesjid, dan sebagainya.

Alat kontrasepsi ternyata dibagi ke dalam dua jenis, yaitu kontrasepsi temporer dan permanen. Jenis alat kontrasepsi pertama, kontrasepsi temporer, umumnya digunakan untuk mencegah dan menjaga jarak antar-kehamilan, serta efeknya akan hilang setelah alat terkait tidak digunakan lagi.

“Sebaliknya, kontrasepsi permanen ditujukan untuk ‘mensterilkan’ pasangan suami istri yang tidak ingin memiliki momongan kembali. Artinya, pasangan tersebut dibuat agar tidak lagi menghasilkan keturunan,” terangnya.

Penulis: Hanas Warpur
Editor : Kris Tanjung
Comments
Loading...
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
error: Content is protected !!