Portal Berita Papua Barat

Daerah Belum Manfaatkan Program Tol Laut

0 7
Program Tol Laut
Program Tol Laut – Manager Usaha PT PELNI Cabang Manowkari, M. Best Dongoran (Foto : Ian/ PBOke)
Manokwari, Papuabaratoke.com – Program Tol Laut. Manfaat program “Tol Laut” di Wilayah Provinsi Papua Barat belum Maksimal. Kondsi ini diakibatkan masih minimnya ‘intervensi’ pemerintah daerah dalam memanfaatkan program yang telah digulirkan sejak 4 November 2015 lalu.

Manager Usaha PT Pelni Cabang Manokwari, M. Best Dongoran mengatakan, pihaknya berencana akan menggandeng sejumlah BUMD dan BUMDES di daerah ini. Pelibatan sejumlah pihak tersebut untuk mengoptimalkan sosialsiasi terkait program tol laut.

“Merekalah yang akan menyosialisasikan kepada masyarakat. Armada kapal tol laut sejak pertama kalinya berlabuh di pelabuhan Manokwari, 23 September 2015 lalu. Hingga saat ini tetap siap berlayar dengan ataupun tanpa muatan,” kata Best, Rabu (13/12/2017).

Kata Best, kapasitas kapal tol laut ini khusus untuk peti kemas, dengan kapasitas sekitar 115 tius, perjalanan kapal tol laut ini sudah terjadwal. Dikatakan, ada atau tidak ada muatan kapal tetap berlayar.
“Tahun 2018, Kementerian Perhubungan (Kemhub) menargetkan muatan balik kapal tol laut dari Wilayah Papua Barat harus di atas 50 persen. Jika dapat mencapai target pada tahun 2018, direncanakan meningkat jadi 15 trayek pelayanan Tol laut. Makanya ini jadi PR bagi jajaran Pelni di indonesia,” terangnya.

Menurutnya, Pemerintah Provinsi Papua Barat belum memanfaatkan program tol laut. Kondisi ini, terlihat dari banyak kapal yang dalam keadaan kosong saat berlayar balik menuju ke arah Barat. Kapal-kapal tol laut hanya terisi penuh dengan bahan kebutuhan pokok yang dibawa dari Pulau Jawa.

“Pelni diberi tanggungjawab untuk mengoptimalkan pemanfaatan muatan kapal tol laut di daerah Morotai, Saumlaki, Manokwari dan Timika, bersama PT ASDP di pelabuhan Merauke dan Namlea. Harapan presiden bahwa kehadiran tol laut harus dimaksimalkan di setiap daerah terisolir di Indonesia,” ucapnya.
Sejauh ini, hanya ada beberapa pelabuhan yang mengisi muatan armada kapal tol laut saat balik menuju arah Barat indonesia. Yakni, daerah Nusa Tenggara Barat dengan garam, Larantuka, Nusa Tenggara Timur dengan kopra dan ikan.

Aktivitas bongkar-muat di Pelabuhan Manokwari. Pemerintah Daerah belum memaksimalkan manfaat program ‘Tol Laut”. Di Manowkari, armada kapal tol laut hanya diisi dengan besi tua atau kontainer kosong. (Foto : Ian/ PBOke)

“Seharusnya kapal tol laut juga bisa bongkar barang di Manokwari dan kembali isi muatan balik dengan barang atau komoditi hasil daerah. Ini kan kapal pengangkut barang yang disubsidi pemerintah. Kita di Manokwari ini benar hanya dimanfaatkan untuk isi besi tua,” tukasnya.

Best membeberkan, kapasitas daya tampung pelabuhan Manokwari untuk menampung kontainer masih sangat terbatas. Upaya penambahan areal penampungan, juga masih belum selesai. Padahal, proyek ini ditargetkan harus rampung Desember 2017.  “Kekosongan muatan itu bukan saja di Manokwari, namun hampir di trayek pelabuhan tol laut lainnya di Wilayah Papua Barat. Seperti jalur Wasior – Nabire, tidak ada juga muatan balik. Di Papua juga, seperti di Timika sering hanya muat kontainer kosong,” ujarnya lagi.

Program tol laut telah mulai dilaksanakan sejak November 2015, yang diawali dengan peluncuran tiga trayek perdana. Keberhasilan penyelenggaraan tol laut harus didukung dengan sinergi antara Kementerian Perhubungan dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian BUMN dan Pemerintah Daerah, salah satunya melalui program Rumah Kita.

Program Rumah Kita berada di 19 lokasi dengan penanggungjawab yang berbeda-beda, untuk memaksimalkan peranannya sebagai tempat untuk menampung barang-barang yang dibawa kapal tol laut dan dari daerah yang disinggahi tol laut, salah satunya Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat.

Editor : Razid
Penulis : Ian
Comments
Loading...
error: Content is protected !!