Portal Berita Papua Barat

Ini Alasan dr. A. Hehanussa, Terpaksa Polisikan Manajemen RSUD Manokwari

0 2.468
Manajemen RSUD Manokwari
Manajemen RSUD Manokwari – dr Augustine Hehanussa, Sp.KK didampingi penasehat hukumnya saat menandatangani laporan polisi terhadap manajemen RSUD Manokwari, yang diduga melakukan malpraktek terhadap anaknya, David Jewish Hehanussa (5), di Mapolda Papua Barat, Selasa (20/2/2018).Penandatangan laporan polisi.(Foto: Adrian Kairupan/PBOKe)
Manokwari, Papuabaratoke.com – Manajemen RSUD Manokwari.  dr. Augustine Hehanussa, Sp.KK, ternyata memiliki alasan kuat, sehingga terpaksa mempolisikan manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Manokwari.

dr. Augustine Hehanussa, yang merasa anaknya, David Jewish Hehanussa (5) menjadi korban dugaan malpraktek saat di rawat di RSUD Manokwari, Desember 2017 lalu, menilai pihak manajemen RSUD Manokwari tak transparan dan tak memenuhi Standar Operasional Pelayanan (SOP) dalam menangani pasien.

“Saya tegaskan, saya tempuh jalur hukum ini sebagai bentuk ketegasan saya dan memberi efek jera. Sebab tidak ada itikad baik RSUD menyelesaikan masalahan ini. Dan sesuai aturan saja pelayanan RSUD tidak memenuhi syarat dan standar SOP,” ucap dr. Augustine Hehanusa, Sp.KK, didampingi kuasa hukumnya Benny Arens Niwe Lattu, SH, di Mapolda Papua Barat, Selasa (20/2/2018).

Sementara salah satu penasehat hukumnya, Benny Arens Niwe Lattu, SH, menambahkan, sikap tempuh jalur hukum ini diambil, karena selain menilai tak adanya etikad baik manajemen RSUD, disisi lain keluarga pasien secara sepihak juga dibebankan secara moril dan materil, sejak menjadi korban dugaan malpraktek atas pemberian dosis secara berlebihan oleh perawta di RSUD.

Baca Juga:  Jika RSUD Lepas Tangan, Dua Oknum Perawat Terancam Jadi Penghuni "Hotel Prodeo"

“Kita sebelumnya sudah layangkan 2 kali somasi kepda ke pihak manajemen RSUD Manokwari, tapi tak ditanggapi. Selain itu, anak klien kami yang sebelumnya didiagnosa mengalami sakit malaria vivax justru, karena penanganan yang salah itu, membuat pasien kami mendapatkan sisi penyakit lain yakni menyerang lambung dan liver (gangguan hati, red) akibat dugaan kelebihan dosis itu,” tutur Benny.

Benny juga menambahkan, akibat dari insiden dugaan malpraktek tersebut pasien akhirnya mendapatkan penanganan insentif selama 14 hari di RS Siloam Internasional Karawaci Jakarta.

“Korban pasien baru keluar RS pada tanggal 14 Januari 2018 kemarin. Dan hingga kini dan selama 6 bulan kedepan harus mendapatkan pengontrolan medis,” cetusnya.

Selain itu tutur dia, upaya hukum yang ditempuh ini, pihaknya telah memperhatikan dan mempelajari lebih awal rangkaian peristiwa yang diperkuat dengan bukti-bukti serta keterangan saksi

“Berdasar dengan ketentuan aturan perundang-undangan, yakni pasal 46 UU nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, pasal 58 ayat 1 UU Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Jadi semua jelas diatur,” ucapnya.

Penulis : Adrian Kairupan
Editor : Kris Tanjung
Comments
Loading...
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com