Portal Berita Papua Barat

Prioritas bagi Tenaga Kerja Lokal pada Proyek Tangguh Train 3 Bintuni Belum Jadi Jaminan

0 125
Proyek Tangguh Train 3 Bintuni
Proyek Tangguh Train 3 Bintuni – Kepala Perwakilan SKK Migas Papua & Maluku (Pamalu), A. Rinto Pudyantoro, didampingi Kepala Disnaker Papua Barat, Pascalina Jamlean, Budy Hermawan perwakilan BP, saat menggelar jumpa pers dengan sejumlah wartawan, di Swissbel Hotel Manokwari, (20/2/2018). (Foto: Kris Tanjung/PBOKe)

Manokwari, Papuabaratoke.com – Proyek Tangguh Train 3 Bintuni. Meski mendapatkan prioritas dalam penerimaan tenaga kerja pada Proyek LNG Tangguh Train 3 Kabupaten Teluk Bintuni, pelibatan tenaga kerja asli Papua dikhawatirkan tidak bisa maksimal.

Priotas tersebut bagi tenaga kerja (asli) Papua belum menjadi jaminan. Pasalnya, ada kualifikasi serta persyaratan lain yang harus dipenuhi. Selain itu, ketersediaan tenaga kerja di bidang industri migas di daerah ini masih bersoal.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Papua Barat Pascalina Jamlean mengakui perekrutan tenaga kerja lokal pada salah satu proyek strategis nasional ini punya pontensi ‘masalah’.

“Tenaga kerja lokal di bidang industri migas yang tersertifikasi minim, ini masalah karena berkaitan dengan kesiapan dalam bekerja. Proyek train tiga ini menjadi pembelajaran bagi pemerintah untuk mendukung ketersediaan tenaga kerja pada industri migas di daerah ini,” kata Pascalina.

Prosedur perekrutan tenaga kerja pada mega proyek tersebut akan dilakukan melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang ada di 4 kabupaten, yakni Teluk Bintuni, Fak-fak, Manokwari, dan Sorong.

Kata Pascalina, kesehatan dan kedisiplinan pekerja menjadi hal mendasar yang patut diperhatikan oleh calon tenaga kerja (asli) Papua. “Kita butuh kerja cepat. Keterbukaan disini sangat penting, sehingga tidak timbul masalah. Harus bersinergi mencari solusi, ini menjadi perhatian pemerintah,” katanya.

Kepala Satuan Kerja Khusus (SKK) Usaha Hulu Migas Perwakilan Papua-Maluku A. Rinto Pudyantoro mengakui bahwa tenaga kerja di industri migas di daerah ini masih menjadi ‘masalah’. Masih minim. Padahal kata dia, potensi migas di wilayah Papua-Maluku cukup besar.

“Untuk itu semua pihak terkait coba rembuk bersama untuk mencari solusi dengan perannya masing-masing. Proyek tangguh train tiga ini diharap bisa beri manfaat optimal bagi Papua Barat khususnya dalam menyiapkan tenaga kerja pada sektor migas,” ujarnya.

Data yang dihimpun Redaksi PBOke (papuabaratoke.com), tenaga kerja proyek tangguh train tiga melibatkan 7.000 pekerja, untuk pekerjaan konstruksi – puncaknya pada Oktober 2018. Ditargetkan train tiga beroperasi pada 2020 mendatang.

Dari jumlah tenaga kerja tersebut, 30 persen adalah kuota bagi tenaga kerja asli Papua. Dengan memprioritaskan masyarakat di 62 Kampung yang berada di 2 kabupaten, yakni Teluk Bintuni dan Fak-fak – sebagai daerah operasi train tiga.

Baca Juga:  Kapolda PB : Belajar Persoalan Toleransi, Datanglah di Tanah Papua

Total tenaga kerja yang akan diserap dari 62 kampung di dua kabupaten tersebut yang terpapar pengembagan proyek tangguh ini sebanyak 300 orang. Artinya, setiap kampung mendapatkan jatah hanya 4-5 tenaga kerja saja.

Adapun kuota tenaga kerja asli Papua yang berasal dari Kabupaten Sorong Raya yang terdiri dar 5 kabupaten hanya kebagian jatah 37 tenaga kerja.

Sementara, tenaga kerja asli Papua yang berasal dari Kabupaten Manokwari Raya yang tediri dari 4 kabupaten bisa kebagian kuota per kabupaten masing-masing 46 orang.

Selain itu, jatah untuk dua kabupaten (Teluk Bintuni-Fak-fak) adalah sebanyak 168 tenaga kerja. Jumlah ini jika dibagi maka, masing-masing mendapat 84 orang.

Hingga kini, jumlah tenaga kerja asal luar daerah mencapai 1.610 orang. Jika ditotalkan maka, sudah ada sebanyak 2.449 tenaga kerja di proyek pengembangan tangguh train 3. Proyek ini sudah dimulai sejak Agustus 2016.

Jumlah tenaga kerja asli Papua yang mencapai 30 persen itu sudah masuk dalam dokumen AMDAL pengembagan proyek tangguh train 3. “Pihak BP Tangguh wajib melaporkan jumlah tenaga kerja yang ada kepada pemerintah,” tegas Pascalina Jamlean.

Nilai proyek tangguh train 3 ditetapkan sebesar delapan miliar dolar Amerika Serikat. Proyek ini diproyeksikan mampu menyumbang tambahan kapasitas produksi kilang LNG Tangguh sebesar 3,8 juta ton per tahun million tons per annum (mtpa).

Dengan demikian, total kapasitas kilang di Teluk Bintuni akan meningkat menjadi 11,4 mtpa. Train tiga menambah dua anjungan lepas pantai, 13 sumur produksi baru, dermaga LNG baru, dan infrastruktur pendukung lainnya.

Proyek tangguh train 3 ini juga bisa meningkatkan produksi listrik 35.000 MW. Karena 75 persen dari produksi tahunan LNG dijual ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Nilai tersebut setara dengan 3.000 MW listrik bagi Indonesia.

Penulis : Razid Fatahuddin/DBS
Comments
Loading...
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com