Portal Berita Papua Barat

Seni Budaya Papua Diminta Tak Hanya Dilaksanakan Seremonial Se-Tahun

0 17
Seni Budaya Papua
Seni Budaya Papua – Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari, Filep Wamafma, SH., M.Hum.(Foto: Hanas Warpur/PBOKe)
Manokwari, Papuabaratoke.com –  Seni Budaya Papua diminta tak hanya dilaksanakan seremonial se-tahun sekali. Hal ini diungkapkan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari, Filep Wamafma pasca terselenggaranya pesta Seni Budaya Nusantara pada 6 Februari 2018 lalu di kabupaten Manokwari.

“Jangan hanya dilakukan seremonial sekali se tahun, tapi bagaimana fokus dan terus mempromosi seni budaya Papua sehingga menarik wisatawan datang ke Manokwari khususnya dan Papua Barat,” ungkap Wamafam saat ditemui Papuabaratoke.com di ruang kerjanya, Selasa (13/2/2018).

Oleh karena itu, kata Wamafma, harus ada pembinaan yang dilakukan oleh pemerintah kepada masyarakat. Terutama bagaimana sanggar seni tari untuk daerah Manokwari diaktifkan kembali, termasuk sanggar yang tersebar di Papua Barat pada umumnya.

“Tarian dan adat budaya asli Papua sangat sakral, bahkan menjadi alat komunikasi. Di samping itu makna dari seni tari dan buadaya harus diwujudnyatakan kepada khalayak umum. Maka sanggar tari harus dihidupkan kembali sehingga pembinaan dilakukan dan makna dari budaya itu dipertahankan,” tutur dia.

Menurut Wamafma, budaya asli Papua semakin punah karena pengaruh dengan adanya teknologi, bahkan pawai seni budaya nusantara yang dilaksanakan kalau mau dibilang hanya sekedar menghabiskan anggaran, namun penyiapan pembinaan tak ada.

Padahal lanjutnya, budaya Papua sangat banyak di daerah ini yang seharusnya dibina. Dan semua suku yang ada tampil dengan karakteristik budaya dan tarinya masing-masing, maka seharusnya dibina oleh pemerintah.

Ia pun memisalkan suku yang ada di Papua Barat harus didata dan bagaimana dan dibina oleh pemerintah sehingga masing-masing budaya dari setiap suku jauh dari kepunahan.

Dia mengatakan, tarian dari suku di daerah Papua Barat tak bisa ditampilkan di jalanan, misalnya goyang tumbuh tanah harus tampil di panggung. Terkecuali yosim pancar dari suku Biak dan Serui biasaya bergoyang sambil berjalan.

Baca Juga:  315 CPNS Kemenkumham Papua Barat Ikut Kesemaptaan

Ia mengutarakan bahwa kalau menggunakan kendaraan sambil beriringan dengan budaya, maka itu bukan disebut budaya. Sebab kalau menampilkan budaya, maka harus menunjukan jati diri keaslian budaya setiap suku dan menampilkan pada tempat khusus.

Sebagai penutup, Wamafma menyarankan dinas kebudayaan dan pariwisata, termasuk dewan kesenian harus memperhatikan hal ini. Sebab bagaimanapun pemerintah diwajibkan menyediakan uang pembinaan agar tetap mempertahankan budaya itu sendiri.

Penulis : Hanas Warpur
Editor : Kris Tanjung
Comments
Loading...
error: Content is protected !!