Portal Berita Papua Barat

Ciptakan Perpecahan, Kelompok Radikal Kerap Manfaatkan Isu Intoleran

0 74
Kelompok Radikal
Kelompok Radikal – Kapolda Papua Barat, Brigjen Pol Rudolf Alberth Rodja dalam pertemuan bersama forkopimda dan tokoh lintas agama Provinsi Papua Barat, di Niu Aston Hotel Manokwari, Kamis (22/22/2018).(Foto: Kris Tanjung/PBOKe)
Manokwari, Papuabaratoeke.com – Kelompok Radikal.  Kelompok garis keras atau radika kerap memanfaatkan isu-isu intoleran untuk menciptakan perpecahan di kalangan masyarakat.

Hal ini diungkapkan Kapolda Papua Barat Brigjen Pol Drs Rudolf Alberth Rodja dalam pertemuan yang dikemas coffe morning bersama forkopimda dan tokoh lintas agama Provinsi Papua Barat, di Niu Aston Hotel Manokwari, Kamis (22/22/2018).

Dia mengatakan, seiring perkembangan zaman dan laju informasi, menjadi ruang dan kesempatan bagi para kelompok radikal untuk mencapai misi dak kehendaknya.

“Misalnya, mereka kerap memanfaatkan seseorang yang mempunyai latar belakang gangguan jiwaan, (Gila, red) untuk meancarkan aksi teror kepada kelompok masyarakat,” ucap Rodja.

Kapolda Rodja mengungkapkan, banyak orang menyebut di tahun 2018-2019 adalah tahun politik. Sehingga kondisi ini kerap ada sebagian kelompok yang memanfaatkan masyarakat berlatar belakang gangguan jiwa untuk memuluskan setiap aksinya.

Hal ini seperti beberapa kali penyerangan yang dilakukan kelompok radikal pada tempat ibadah, mengintimidasi para tokoh agama di berbagai daerah sesuai laporan intelijen.

Papua Barat Contoh Tanah Yang Damai
Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan yang turut hadir dalam pertemuan bersama forkopimda dan tokoh lintas agama Provinsi Papua Barat, di Niu Aston Hotel Manokwari, Kamis (22/22/2018).
Baca Juga:  Pupuk Persatuan, Kapolda Rodja Ajak Forkopimda dan Tokoh Lintas Agama Saring Isu Pemecah

“Kita lihat dan cermati akhir-akhir ini banyak kelompok masyarakat, tokoh agama yang diserang oleh orang atau kelompok yang banyak merekrut orang gila untuk dimanfaatkan. Ini terjadi, dan beberapa kali tertangkap pihak kepolisian. Ketika dicek pelaku mempunyai latar belakang gangguan jiwa atau gila. Sehingga dalam penyelidikan kerap penyidik kewalahan, situasi seperti inilah yang kini dimanfaatkan kelompok radikal, dan menyebar isus, padahal ini ulah oknum,” jelasnya.

Rodja juga menjelaskan, situasi kamtibmas dua bulan pertama di tahun 2018 di wilayah Papua Barat terlapor cukup aman. Diakuinya hal ini berkat kerjasama semua pihak terutama para tokoh masyarakat dan tokoh agama.

“Mari tokoh-tokoh adat dan masyarakat, seperti kepala Suku besar Arfak, Flobamora, KKSS, dan tokoh -adat lainnya, kita sama-sama menjaga ketentraman di Papua Barat khususnya di Kota Manokwari,” seru Rodja.

Penulis : Adrian Kairupan
Editor : Kris Tanjung
Comments
Loading...
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com