Portal Berita Papua Barat

Usaha Penggemukan Sapi dan Kompos Cukup Prospektif di Kalangan Gapoktan

0 26
Usaha Penggemukan Sapi
Usaha Penggemukan Sapi – Dosen STPP Manokwari, Y. Yan Makabori saat berkunjung ke Gapoktan Gemari di Sorong baru-baru ini
Manokwari, Papuabaratoke.comUsaha Penggemukan Sapi. Guna mengetahui sejauh mana kemandirian kelembagaan ekonomi. Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian (STPP) melakukan identifikasi ke petani di beberapa gabungan kelompok tani (Gapoktan) di Kabupten Sorong.

Dosen STPP Manokwari, Y. Yan Makabori saat berkunjung ke Gapoktan Gemari di Sorong baru-baru ini, mengatakan dalam pembentukan kelompok tani harus ada pendampingan dan pengawalan dari penyuluh.
Pendampingan dan penyuluhan itu harus dilakukan secara rutin. Minimal, dala satu bulan, ada empat kali pembinaan. “Prospek usaha sebuah gapoktan dilihat dari sebuah peluang usaha tinggi tapi tidak meninggalkan pekerjaannya sebagai petani,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Marian Kabupaten Sorong, Iriyanto mengatakan, salah satu usaha yang prospektif dilakukan oleh gapoktan adalah usaha ternak penggemukan sapid an sarana produksi pertanian. “Adalah gapoktan Gemari yang mengembangkan usaha di bidang pengemukan sapi potong. Usaha ini sudah berjalan sejak tahun 2012,” katanya.

Menurut Iriyanto, hasil usaha penggemukan sapi ini hanya bisa dijual sekali dalam setahun. Untuk memaksimalkan usahanya, Gapoktan Gemari juga mulai mengoptimalkan sub pengelola prosesing pengolahan limbah ternak menjadi pupuk kompos.

“Bahkan usaha ini satu-satunya produk olahan kompos terbesar di Kabupaten Sorong. Banyak permintaan dari luar Kabupaten Sorong. Pupuk hasil produksi gapoktan ini juga dipakai dalam kegiatan-kegiatan pertanian dinas serta petani kelompok lainnya juga mengambilnya pupuk dari sini,” ucapnya.

Salah seorang pengelola pupuk kompos, Kuseri menuturkan, proses pembuatan kompos tidak terlalu sulit, yang dibutuhkan adalah ketelitian. “Bahan-bahan pembuatan kompos seperti kotoran sapi diperoleh dari ternak sapi gapoktan serta membeli dari masyarakat seperti kotoran ayam, dedak, gula, serta mikroorganisme,” terangnya.

Baca Juga:  Pramuka Sorong Siapkan Tari Kontenporer Perdamaian Papua di Raimuna Nasional XI

Dia menjelaskan, cara membuat kompos ini adalah seluruh bahan dicampur dan difermentasikan selama 21 hari. Kompos yang sudah jadi lalu dikemas dalam karung 50 kg. Harga jualnya pun relatif murah yaitu Rp 2000/kg.
“Dari usaha ini sudah terkumpul 45 juta rupiah yang ditabungan gapoktan sub pengolahan limbah. Ya…allhamdulillah pengahasilan dari kompos dapat membantu pendapatan ekonomi keluarga,” ucap Kuseri. (*2/PBOke)

Comments
Loading...
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
error: Content is protected !!