Portal Berita Papua Barat

Tanaman Sagu Digusur Kantor Pertanahan Setda Teluk Wondama Disegel

0 62
Tanaman Sagu Digusur
Tanaman Sagu Digusur – Warga Melakukan Pemalangan Ruangan Bagian Pertanahan Setda Teluk Wondama. (Foto: VIO/PBOKe)
Wasior, Papuabaratoke.com – Tanaman Sagu Digusur.  Sekelompok warga yang berdomisili di Kampung Torey dan Kampung Isei, Distrik Rasiei, Kabupaten Teluk Wondama melakukan penyegelan terhadap Kantor Pertanahan Setda Kabupaten Teluk Wondama, Selasa (6/2/2018).

Pintu ruang utama serta ruang adminstrasi disegel dengan menggunakan bambu. Penyegelan kantor ini buntut dari lambatnya realisasi ganti rugi tanaman sagu milik warga. Yang terkena proyek pelebaran aliran sungai.

Salah seorang warga yang melakukan pemalangan, Abner Nunaki mengatakan jalur aliran sungai Ati diperbesar agar bisa menampung debit air. Proyek normalisasi sungai Ati telah dikerjakan sejak tahun 2014. Normalisasi yang sama juga dilakukan, ini menyusul Kampung Torey dan Kampung Isei, dua kampung ini berulang kali terendam banjir akibat luapan sungai Ati.

Kata Abner, kepala kampung bersama warga dua kampung itu telah sepakat tidak meminta ganti rugi karena menyadari perbaikan kali dilakukan untuk keselamatan warga sendiri. Meski demikian, jalur belakangan sungai yang telah diperlebar tidak jadi dipergunakan.

Kontraktor pelaksana justru membuat jalur baru lagi untuk dilewati aliran air. Dia menegaskan, pembukaan jalur baru dibuat tanpa berkoordinasi dengan warga.

“Itu yang kami kecewa dan kami datang palang. Kalau masih tetap yang jalur lama kami tidak bisa tuntut untuk bayar karena itu untuk kepentingan kami sendiri. Tapi mereka bikin jalur baru lagi sehingga kami tuntut harus bayar, “ jelas Apner Warga Kampung Isei, Maurits Nunaki, realisasi ganti rugi tak kunjung jelas. Pasalnya, pemerintah telah menjanjikan untuk membayarkan ganti ruti.

“Kami sudah buat data-data terkait jumlah pohon sagu, sudah  masukan ke bagian Tapem (Tata Pemerintahan), katanya nanti dibayar tapi sudah beberapa tahun ini tidak ada tanggapan. Kitong jalan sampai malu datang terus ke sini,“ ujar Maurits.

Baca Juga:  Kadistrik dan Kepala Kampung Harus Kompak Kelola Dandes

Hingga Selasa siang, warga masih bertahan di kantor Bagian Pertanahan. Mereka menuntut ada pembayaran terlebih dahulu baru segel bisa dilepas.

Penulis : Vio
Editor : Razid Fatahuddin
Comments
Loading...
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
error: Content is protected !!